Puncak Yang Tertunda

Kata orang “Puncak itu Bonus”. Menurut saya itu benar adanya. Karna bagi saya ada yang lebih istimewa dari sekedar puncak, yaitu bagaimana “Proses” kita mencapai puncak tersebut. Dan ketika kita belum mencapainya, hal itu bukanlah suatu kegagalan, melainkan suatu yang tertunda. Itu juga berlaku dalam berbagai hal di kehidupan nyata kita.


Masih sangat jelas diingatan hari itu Minggu, 24 Desember 2017. Saya mendapat pesan dari salah satu teman dekat yang hobi menjelajah alam (Alda) dimana pesan tersebut berisi ajakan untuk mendaki gunung. Satu dari banyak hal yang masuk dalam resolusi hidup saya dan sudah sangat saya tunggu-tunggu untuk segera di realisasikan. Ketika itu saya sangat bersemangat untuk langsung mengiyakan ajakan tersebut. Namun bukan suatu hal yang mudah bagi saya untuk segera merealisasikannya. Sebelum itu saya diliputi rasa takut ketika harus meminta izin kepada kedua orang tua. Maklum saja, karena ini akan menjadi pendakian gunung pertama dalam hidup saya. Namun rasa takut itu terjawab sudah, ketika mendengar jawaban dari kedua orang tua yang ternyata diluar dugaan saya! Ketika itu kedua orang tua langsung merespon positif niat saya untuk mendaki gunung! Mungkin salah satu faktor pendukungnya adalah kakak laki-laki saya sudah lebih dulu mendapat kesempatan untuk menjelajahi keindalam alam ciptaan-Nya. Dari situlah kedua orang tua saya mendapat gambaran bahwa mendaki gunung adalah suatu hal yang positif apabila diimbangi dengan niat baik, persiapan yang matang, serta tak lupa untuk tetap menghargai alam. Dan bukan menjadi halangan bagi anak perempuannya untuk mendapat kesempatan yang sama menikmati keagungan Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.
Tak butuh waktu lama bagi kami untuk segera merealasisasikan rencana tersebut. Dengan persiapan serba mendadak yang hanya dua hari serta cuaca di bulan Desember yang tak menentu karena sedang musim hujan, tak menghalangi niat kami untuk segera menyapa Lawu, gunung dengan ketinggian 3265 mdpl dengan puncaknya yang terkenal yaitu Hargo Dumilah dan kental akan unsur mistisnya serta dianggap sebagai pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa yang berhubungan erat dengan tradisi Praja Mangkunegaran. Mengapa Lawu? Karena menurut kami letak Lawu yang berada di perbatasan Solo-Magetan sangat mungkin dijangkau oleh kami yang hanya memiliki waktu terbatas untuk persiapan pendakian ini. Perjalanan kali ini tentunya saya ditemani oleh teman penjelajah alam saya (Alda). Namun kami tak hanya berdua, kami kedatangan teman jauh dari Jakarta yang dengan rendah hati membawakan perlengkapan pendakian untuk mendukung perjalanan ini (Yoga), dan tentunya teman baru saya yang masih satu kampus dengan saya dan Alda (Ryan). Singkat cerita, Alda, Yoga dan Ryan memang sudah merencanakan pendakian ini entah sejak kapan, saya hanya orang yang tiba-tiba diajak karena memiliki tujuan yang sama dengan mereka. Tapi sejujurnya saya dan Alda sudah memiliki niat ini sejak kami duduk di semester awal perkuliahan, namun tak kunjung terealisasikan karna satu dua alasan.
Selasa, 26 Desember 2017. Kami mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Karena saya pemula, maka saya memanfaatkan jasa penyewaan perlengkapan pendakian yang berada tak jauh dari kostan saya (Kentingan Outdoor). Sambil menunggu teman kami (Yoga) yang hari itu baru saja sampai di Solo dan langsung melakukan pendakian, kami packing barang dan memastikan kembali bahwa tidak ada yang kurang. Setelah semua teman saya berkumpul dan perlengkapan pun sudah siap, kurang lebih pukul 11.30 WIB kami memulai perjalanan dari Solo menuju perbatasan Solo-Magetan. Untuk mencapai puncak Lawu sebenarnya ada tiga jalur yang dapat dilalui, yaitu via Cemoro Sewu, via Cemoro Kandang, dan via Cetho. Kali ini teman-teman memutuskan untuk memilih jalur via Cemoro Sewu mengingat saya yang masih pemula, jalur tersebut dinilai lebih ramah bagi pemula dan tracknya tak terlalu panjang. 
Perjalanan dari Solo kami tempuh kurang lebih dua jam menggunakan motor. Sekitar pukul 13.30 WIB kami sampai di Basecamp Cemoro Sewu. Tanpa membuang waktu, kami langsung melakukan registrasi untuk pendataan jumlah anggota dalam tim kami dan mempersiapkan energi untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya. Tak lupa juga kami awali dengan doa bersama agar perjalanan kami berjalan lancar, terhindar dari segala mara bahaya dan dapat turun kembali dengan selamat. 
Pintu Gerbang Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu

Sekitar pukul 14.00 WIB kami benar-benar memulai pendakian, pada saat itu cuaca di kaki gunung mulai mendung namun belum sampai hujan. Diawal pendakian track yang kami lewati masih sangat mendukung, landai dan tidak terlalu berbatu. Namun apabila boleh jujur, di 15 menit pertama pendakian dalam hati saya merasa “wah berat juga yaa, kuat gk nih”. Kembali saya kuatkan lagi niat awal saya dalam hati dan tanpa saya sadari saya belum mengatur pernafasan dengan baik. Hal pertama yang saya pelajari, atur ritme nafas kalian sebaik mungkin selama perjalanan! Kebetulan diawal pendakian saya membawa carier dengan ukuran sedang karena dianggap energi kita masih terisi penuh, itu merupakan salah satu trick bagi pemula agar saat kita merasa kelelahan ditengah perjalanan, kita bisa bertukar tas dengan teman yang lain. Itulah mengapa membawa daypack itu sangat penting! Minimal satu daypack. Dan jangan ragu untuk bicara dengan timmu apabila dirasa mulai kelelahan. Karna kita sendiri yang tahu batas ketahanan fisik kita "lebih baik mencegah daripada mengobati".
Sekitar 1 jam perjalanan sebelum mencapai pos 1, kami menemukan sumber mata air yang diberi nama (Sendang). Kami pun tak melewatkan kesempatan untuk mengisi botol air kami sekaligus merasakan kesegaran air dari kaki Gunung Lawu serta istirahat sejenak untuk mengumpulkan energi kembali. Sembari istirahat kami bertemu dengan rombongan dari mana saya lupa hehe, yang jelas kami berbincang-bincang sejenak dan tak lupa mengabadikan moment ini dengan mengambil foto bersama. 
Sendang (sumber mata air) sebelum Pos 1

Setelah itu kami berpisah dan melanjutkan perjalanan dengan rombongan masing-masing. Selama perjalanan saya menemui beberapa “Bonus”, sebutan yang sering diucapkan oleh para pendaki apabila kita melewati jalur yang landai haha. Kurang lebih sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di Pos 1. Saat itu kondisi Pos 1 sangat ramai oleh pendaki, kami hanya istirahat sejenak untuk memakan sesuatu yang manis, mengingat kami harus mengejar waktu agar bisa mencapai pos 3 sebelum gelap. Entah perasaan saya saja atau memang jarak pos 1 ke pos 2 itu tidak terlalu jauh, tapi kurang lebih sekitar pukul 18.00 WIB kami sudah mencapai pos 2. Di pos 2 ini sangat menarik, karna di pos ini kami bisa menemui warung! Ya warung sedehana di ketinggian gunung! Saya salut dengan penduduk sekitar yang mampu bolak-balik dari bawah ke atas untuk mengisi bahan makanan atau membawa hasil hutannya dengan perlengkapan yang apa adanya. Kami pun tak ingin melewati kesempatan untuk mencicipi makanan di warung ini walau hanya sekedar gorengan namun itu terasa sangat nikmat! Sambil beristirahat menikmati suhu udara Lawu yang semakin dingin terasa.
Suasana di Pos 2

Mengingat langit yang semakin gelap, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Bagi saya ketahanan fisik saya lumayan diuji disini. Karena pada saat itu hujan mulai turun dan saya merasa track yang kami lewati semakin menanjak, terjal dan berbatu. Dengan jarak pandang yang terbatas, kami pun tak segan untuk banyak menepi dan beristirahat. Sekitar pukul 20.00 WIB kami sampai di pos 3 dengan hujan yang semakin deras mengguyur. Kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan mendirikan tenda disini, karena perut kami yang juga dirasa mulai lapar. Kami berencana melanjutkan perjalanan untuk summit sekitar pukul 01.00 WIB atau ketika hujan mulai reda. Setelah tenda berhasil didirikan, kami pun segera mengemas perlengkapan masuk ke dalam tenda serta memasak bebarapa makanan dan minuman untuk menghangatkan badan. Kesempatan luar biasa bagi saya bisa merasakan sensasi memasak di alam bebas! 
Suasana di dalam tenda

Setelah perut cukup terisi kami pun istirahat dan tidur, menyiapkan energi kembali untuk persiapan summit esok dini hari. Namun diluar dugaan, malam itu kami dilanda badai. Angin bertiup sangat kencang diluar tenda ditambah hujan yang belum reda juga yang membuat tenda kami sedikit bocor haha. Saya sempat mengalami hipotermia ringan (kedinginan), karena mungkin ini pengalaman pertama untuk saya. Alhamdulillah semua teratasi berkat teman-teman. Karena kita memang harus tetap siaga apabila terjadi suatu kondisi diluar dugaan yang menimpa rekan satu tim kita. Itulah mengapa dalam suatu tim sangat dibutuhkan teman yang memiliki pengalaman mendaki, karena pertolongan pertama dapat diberikan dari rekan satu tim kita sendiri. Itu nilai yang saya ambil. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi rombongan yang belum pernah mendaki untuk tetap menjalankan niatnya apabila telah dipersiapkan secara matang, namun resiko itu pasti ada.
Karna kondisi malam itu yang tidak memungkinkan bagi kami untuk tetap melakukan summit, maka kami mengambil keputusan untuk tetap berdiam diri di dalam tenda sampai cuaca diluar mendukung. Banyak dari rombongan tim lainnya juga menunda summit mereka karena tidak ingin mengambil resiko. Beberapa jam berlalu, hingga pukul 06.00 WIB cuaca diluar masih hujan rintik-rintik disertai dengan tiupan angin yang kencang. Setelah menimbang beberapa hal dan melihat kondisi cuaca diluar yang masih tidak memungkinkan, kami mengambil keputusan akhir untuk tidak melanjutkan summit pada pendakian kali ini. Kami memilih untuk mengisi perut dan menghangatkan badan kembali dengan sisa makanan yang kami bawa. Hingga sekitar pukul 09.00 WIB cuaca mulai membaik, sinar matahari mulai muncul dan menghangatkan badan kami. Tak lupa kami mengambil beberapa foto untuk mengabadikan moment ini.
Suasana setelah badai semalaman

Suasana di Pos 3

Setelah mengabadikan beberapa moment, kami bersiap untuk segera turun mengingat matahari sudah hampir berada diatas kepala. Kami mempacking kembali semua perlengkapan dan tak lupa juga untuk membawa turun sampah yang kami hasilkan. "jangan bunuh apapun kecuali waktu, jangan ambil apapun kecuali gambar dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak" kata-kata yang sangat bermakna dalam bagi saya. Tiba pada pukul kurang lebih 11.30 WIB kami melakukan perjalanan turun. Bagi saya yang pemula, perjalanan turun juga cukup menguras energi, hanya saja waktu yang ditempuh lebih cepat dibandingkan dengan perjalanan saat menuju puncak. Perjalanan turun kami pun tetap diselimuti suhu udara Lawu yang dingin. Bahkan jarak pandang kami sangat terbatas karna tertutup oleh kabut. Pendaki yang kami temui saat perjalanan turun pun tidak terlalu banyak seperti pada saat perjalanan menuju puncak. Beberapa jam berlalu, hingga akhirnya sekitar pukul 16.00 WIB kami berhasil sampai di Base Camp Cemoro Sewu lagi! Alhamdulillah, lega rasanya dapat turun dengan selamat dan berhasil merealisasikan salah satu resolusi di hidup saya. Sebuah penutup di akhir tahun 2017 yang sangat berkesan. Terima kasih Lawu dan rekan-rekan saya Alda, Yoga, Ryan. Sampai jumpa di lain waktu Hargo Dumilah.
Satu kalimat untuk menyimpulkan perjalanan ini "kamu tidak akan pernah tahu, sampai kamu benar-benar pergi dan merasakannya sendiri".



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bajo, I'm In Love

Student Backpacker 2019 (Part 2)

Salam dari Bima (Part 1)